
Hellboy II adalah apa yang terjadi jika seorang visioner Eropa memaksakan diri untuk mengikuti gaya Hollywood. Sebagai seorang sutradara, Guillermo Del Toro memang masih bisa mempertahankan kharisma dan ciri khasnya dalam magnum opus Pan's Labyrinth melalui kreasi makhluk-makhluk imajiner yang mungkin hanya bisa ditandingi oleh saga Star Wars. Namun saya berusaha mengambil jarak dan melihat apa yang benar-benar membuat sebuah film patut dihargai: kekuatan naskah. Dan Del Toro - yang juga berperan sebagai penulis naskah - gagal total untuk masalah ini.
Okelah, rentetan humor garing yang berserakan di film ini mungkin masih bisa dimaafkan karena Del Toro terlihat masih beradapatasi dalam menjiplak formula humor-humor ala superhero Amerika. Tapi jalan ceritanya sungguh tidak termaafkan. Terutama proses editing-nya yang nyata-nyata menunjukkan ego Del Toro yang enggan memotong naskahnya sendiri. Akibatnya film ini terasa sangat panjang dan melelahkan. Petualangan si bocah neraka yang seharusnya bisa diselesaikan kurang dari satu setengah jam ini akhirnya molor tidak karuan hingga mencapai 110 menit!
Dengan durasi sepanjang itu, adegan action yang memang banyak diumbar oleh Del Toro seharusnya bisa menjadi kompensasi bagi penonton yang harus menahan kantuk akibat melimpahnya adegan tidak penting. Sayang, untuk masalah ini Del Toro juga tidak efektif. Banyak adegan action, namun hampir semuanya hambar dan gagal membawa penonton ke level kesenangan tertinggi. Jika adegan Bat-pod dalam The Dark Knight mampu membuat penonton di bioskop tidak dapat menahan diri untuk bertepuk tangan, maka adegan action dalam Hellboy II bahkan tidak mampu membuat mata saya lebih melek dari sebelumnya.
Yah, bagaimanapun saya masih bisa menghargai Del Toro yang bisa mempertahankan ciri khasnya yang mengagumkan dalam film ini - kendati itupun hanya satu-satunya nilai lebih. Dua setengah bintang dari lima sudah penilaian maksimal dari saya.
Okelah, rentetan humor garing yang berserakan di film ini mungkin masih bisa dimaafkan karena Del Toro terlihat masih beradapatasi dalam menjiplak formula humor-humor ala superhero Amerika. Tapi jalan ceritanya sungguh tidak termaafkan. Terutama proses editing-nya yang nyata-nyata menunjukkan ego Del Toro yang enggan memotong naskahnya sendiri. Akibatnya film ini terasa sangat panjang dan melelahkan. Petualangan si bocah neraka yang seharusnya bisa diselesaikan kurang dari satu setengah jam ini akhirnya molor tidak karuan hingga mencapai 110 menit!
Dengan durasi sepanjang itu, adegan action yang memang banyak diumbar oleh Del Toro seharusnya bisa menjadi kompensasi bagi penonton yang harus menahan kantuk akibat melimpahnya adegan tidak penting. Sayang, untuk masalah ini Del Toro juga tidak efektif. Banyak adegan action, namun hampir semuanya hambar dan gagal membawa penonton ke level kesenangan tertinggi. Jika adegan Bat-pod dalam The Dark Knight mampu membuat penonton di bioskop tidak dapat menahan diri untuk bertepuk tangan, maka adegan action dalam Hellboy II bahkan tidak mampu membuat mata saya lebih melek dari sebelumnya.
Yah, bagaimanapun saya masih bisa menghargai Del Toro yang bisa mempertahankan ciri khasnya yang mengagumkan dalam film ini - kendati itupun hanya satu-satunya nilai lebih. Dua setengah bintang dari lima sudah penilaian maksimal dari saya.