Senin, 25 Agustus 2008

Help! We're Drowning...

Sebenarnya ide ini tidak baru sama sekali. Dunia tenggelam. Yeah, tentu saja sudah ada puluhan (atau bahkan ratusan?) ide serupa yang bertebaran di luar sana. Sekali ini, saya hanya ingin melakukan reproduksi ide dengan interprestasi versi saya sendiri.

Ketiga iklan bersambung ini masing-masing diberi judul sesuai dengan landmark yang mendominasi tampilan visualnya: “Monas”, “Patung Selamat Datang”, dan “Patung Pancoran”. Ide besarnya adalah membawa isu global warming pada lingkup lokal, yakni Jakarta. Ide tambahan adalah dengan membuat level air yang terus meninggi dari iklan pertama hingga ketiga.

Ilustrasi kembali dikerjakan oleh Gege, dan saya dapat mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan karyanya kali ini, sama seperti penggunaan konsep dan pendekatan humor yang menurut saya cukup segar. Hanya saja seri ini memperlihatkan dengan telak kegagapan saya untuk masalah art directing.

Saya akan berusaha untuk memperbaikinya di masa mendatang…






Minggu, 24 Agustus 2008

Robots Are The New Human!



Musim panas tahun ini saya dua kali berturut-turut keluar dari gedung bioskop dengan perasaan senang. Saya pasti sedang beruntung.


Bagi orang-orang yang mulai cemas dengan pendekatan Hollywood terhadap film-film komersil mereka, Pixar adalah jaminan mutu yang hampir tidak pernah mengecewakan. Karena itu cukup beralasan rasanya jika saya berharap banyak pada Wall-E, dan Pixar sekali lagi berhasil membuktikan bahwa saya tidak salah – walaupun bukan tanpa catatan.


Film ini diawali dengan sangat baik, kalau tidak bisa dibilang sempurna. Setting bumi yang telah ditinggalkan maupun karakter dua robot, Wall-E dan EVE, serta tambahan seekor lipas yang semuanya sangat manusiawi digambarkan dengan sukses oleh simplifikasi ala Pixar. Cerita lama: ketika Dreamworks berharap bisa mendekat melalui cara mereka yang bombastis, Pixar sekali lagi menunjukkan mengapa orang-orang dapat berharap lebih banyak kepada mereka. Jika Kungfu Panda memperlihatkan bagaimana sebuah produk dikemas dengan baik, maka Wall-E adalah karya seni yang sebenarnya.


Sayang, beban pesan moral yang begitu berat membuat paruh kedua film ini terasa agak kedodoran. Untuk memprotes cacat cela umat manusia dalam memperlakukan alam, menurut saya Pixar melakukan terlalu jauh dan sederhana dengan menggambarkan orang-orang yang sangat obese serta sudah sedemikian asing dengan benda bulat bernama bumi dan kebudayaan di dalamnya. Ayolah, orang-orang tidak akan sebodoh itu! Paling tidak bukan orang-orang yang hidup di lapisan terluar galaksi serta mampu mengendalikan pesawat luar angkasa super modern dan robot-robot cerdas. Sekali ini, simplifikasi ala Pixar tidak berhasil untuk saya. Ini tidak seperti gaya mereka yang biasa memendam pesan moral dalam-dalam agar tidak terkesan terlalu menggurui.


Bagaimanapun, pesan moral juga adalah pembelaan terbaik yang bisa diberikan oleh film ini. Harus diakui ketimbang film-film Pixar lainnya, Wall-E memiliki pesan moral yang jauh lebih dalam dan relevan dengan keadaan sekarang. Dan berbicara tentang film yang memiliki pesan moral, maka Pixar adalah studio yang paling bertanggungjawab terhadap karya-karya yang mereka hasilkan.


Wall-E adalah favorit saya untuk Oscar kategori film animasi terbaik tahun ini. Namun Pixar harus berhati-hati, karena dari belahan dunia yang lain seseorang bernama Hayao Miyazaki juga mengeluarkan film animasi dengan kualitas yang – saya yakin – tidak kalah bagus.


Untuk si robot kesepian yang akhirnya menemukan (banyak) teman hidup, saya memberikan empat setengah bintang dari lima.

Up, Up, and Glory!

Untuk pencapaian ini, saya harus banyak berterimakasih pada Edsa, ilustrator saya.


Pertengahan bulan Juli lalu, saya cukup beruntung memenangkan kompetisi desain poster olimpiade yang diselenggarakan oleh CJ Fancy Paper dan Kedutaan Besar Cina. Walaupun saya menghabiskan waktu berhari-hari untuk memikirkan konsep yang akan dituangkan, dan bekerja keras untuk menanamkan pesan-pesan terselubung dalam poster yang berjudul “Get Into The Spirit” ini, namun pada akhirnya kemenangan poster ini banyak ditentukan oleh tampilan visualnya yang menyenangkan mata. It’s that plain simple.


Konsep poster ini adalah menggabungkan dua budaya, Indonesia dan Cina, ke dalam satu semangat penyelenggaraan olimpiade. Gatot Kaca adalah pilihan pertama saya untuk menggambarkan ikon Indonesia, sementara lukisan bergaya Cina adalah pilihan yang saya ambil untuk mewakili negara tuan rumah olimpiade 2008 itu. Merasa kurang pede hanya dengan pencomotan ikon-ikon, saya menyertakan pula beberapa pesan terselubung untuk menambah daya tarik. Yang pertama adalah copy yang sekilas terlihat layaknya aksara Cina, namun jika diamati lebih teliti akan terbaca tulisan “Get Into The Spirit” dalam aksara latin. Adapun logo olimpiade yang berbentuk stempel Cina ditempatkan pada tempatnya di bagian bawah tulisan.


Pesan yang paling terlihat mungkin adalah pose Gatot yang dibuat sama dengan pose pada logo olimpiade. Bonus ditambahkan pada menit-menit terakhir oleh Edsa, yang membuat tampilan selendang melayang di pinggang Gatot seolah-olah menjadi garis finish yang diputuskan oleh si karakter. Very well done!



Ini Bukan (Sekedar) Film Superhero!



Kalau ada yang mengatakan bahwa The Dark Knight hebat karena penampilan mendiang Heath Ledger sebagai The Joker yang memang luar biasa, bisa dibilang bahwa ia sebenarnya malah merendahkan film ini. The Dark Knight adalah film yang hebat, titik.


Mari kita mulai dengan editing dan tata suaranya yang gagah. Dengan durasi lebih dari dua setengah jam, film ini tidak pernah gagal membuat saya terpaku di kursi dan menikmati setiap menitnya. Naskah adalah hal lain yang patut diberi kredit tersendiri. Seolah belum cukup memukau kita dengan proses memanusiakan costumed superhero yang lumayan sukses dalam Batman Begins, di The Dark Knight Nolan bersaudara kembali menghentak dengan menambahkan substansi yang dalam, berat, penuh kejutan, dan jauh lebih kelam. The Dark Knight bukan hanya sekedar film superhero, namun juga film drama, action, serta gangster yang sama kuatnya. Film ini mungkin adalah film gangster terbaik yang pernah saya tonton sejak The Departed dua tahun lalu.


Apa lagi? Yah, tentu saja ada Ledger yang selalu memberikan penampilan maksimal dalam beberapa film terakhirnya. Walaupun Nolan mengakui bahwa ia menunjuk komik The Killing Joke sebagai referensi terbesar The Joker dalam film ini, namun Ledger dengan sukses menciptakan The Joker-nya sendiri. Penampilan paling berkesan yang dipersembahkan mendiang dalam film pamungkasnya ini adalah cara terbaik untuk mengucapkan selamat tinggal pada dunia.


Tapi sekali lagi, The Dark Knight bukan hanya Ledger seorang. Secara keseluruhan film ini memiliki barisan cast yang sangat kuat. Christian Bale, Michael Caine, dan Morgan Freeman memberikan penampilan yang memenuhi ekspektasi, sementara Maggie Gylenhaal dan Aaron Eckhart memberi tambahan kejutan yang menyenangkan. Khususnya untuk Gylenhaal yang memberi nyawa lebih pada satu-satunya karakter dalam serial Batman yang hanya muncul dalam film, Rachel Dawes, ketimbang yang dilakukan oleh Katie Holmes pada film pertama.


Kalaupun ada kekurangan dari The Dark Knight, maka mungkin itu adalah sekaligus kekuatannya, yakni usaha untuk menggambarkan dunia komik secara lebih manusiawi. Bagi banyak penonton yang datang ke bioskop dengan mengharapkan kesenangan yang sama dengan film Spider - Man 2 atau Iron Man baru-baru ini, maka saya yakin bahkan kehadiran Bat-Pod yang super keren itu sekalipun tidak akan mampu memenuhi ekspektasi mereka. Namun performa The Dark Knight yang sungguh merajalela di tangga box office – setidaknya di daerah Amerika Utara – menghadirkan optimisme tersendiri bahwa penonton kita semakin siap untuk menerima film-film semacam ini di masa depan.


Untuk dampak yang diberikannya terhadap film-film adaptasi buku komik, penampilan terakhir dari seorang aktor jenius, serta sekedar untuk kualitasnya yang sungguh sangat di atas rata-rata; saya berani mengatakan bahwa The Dark Knight adalah film yang paling penting di tahun ini. Sayang, saya hanya sempat menontonnya dua kali di bioskop.


Lima bintang dari lima!

Halo, Ada Apa di Sana?

Sebelum terlalu basi, berikut ini saya lampirkan karya yang cukup bagus untuk menjadi pemenang kedua di lomba iklan Indonesia Bertindak yang diselenggarakan di milis CCI pada pertengahan Juni yang lalu – walaupun sayangnya belum cukup bagus untuk menjadi yang nomor satu. Sekedar informasi tambahan, sebenarnya saya mengirimkan satu seri yang terdiri dari tiga iklan, namun yang beruntung didapuk menjadi pemenang kedua hanya seri pertama yang berjudul “Bunaken”.


Walaupun sekilas terlihat kuat secara visual, ketiganya adalah iklan yang lebih bergaya copy-based ketimbang art-based. Konsepnya adalah mengangkat ketakutan berlebih wisatawan-wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia (diwakili oleh copy pada headline), yang dijawab dengan alasan bahwa sebenarnya tidak ada yang perlu ditakutkan di negara indah nan rupawan ini (diwakili oleh copy pada body copy). Adapun departemen ilustrasi untuk ketiga iklan ini dikerjakan oleh sobat saya, Gege.


Btw, pemenang pertama untuk lomba ini adalah sembilan seri iklan yang sangat copy-based, dan harus diakui memang lebih tajam ketimbang milik saya.








Senin, 18 Agustus 2008

QUESTION OF THE DAY!!!

"Bahagiakah anda dengan hidup anda?"

Pertanyaan berbahaya.

Bagi kebanyakan orang, bahagia bukanlah kondisi, tapi sebuah kewajaran. Orang-orang terbiasa melihat hidup mereka sebagai sesuatu yang membahagiakan. Yah, mungkin satu dua masalah kadang muncul ke permukaan, namun rata-rata orang - Indonesia terutama - akan memilih mendefinisikan hidup mereka sebagai "bahagia". Kecuali untuk beberapa golongan, misalnya orang-orang yang dengan jujur dan gagah berani mengatakan "tidak, saya tidak bahagia," atau untuk orang-orang yang hidupnya memang sudah sangat memelas; tidak punya uang untuk rekreasi, tidak punya uang untuk pendidikan, bahkan tidak punya uang untuk sekedar makan satu kali sehari. Sayangnya, di Indonesia, golongan yang saya sebut terakhir adalah yang lebih dominan.

Namun apa sesungguhnya hal yang bagus dari sebuah jawaban jujur, "tidak, saya tidak bahagia"?

Banyak.

Paling tidak, kita tidak lagi menafikkan kenyataan bahwa hidup kita tidak berjalan sebagaimana yang kita harapkan. Dari sana, kita bisa melakukan sesuatu yang baru. Kita bisa berusaha.

Baiklah, mulai dari awal, "bahagiakah anda dengan hidup anda?"

Jika pertanyaan itu masih terdengar berat, saya masih punya satu pertanyaan yang bagus: "jika anda diberi kesempatan untuk mengulang hidup sekali lagi, apakah anda akan melakukan hal yang sama?"

(Yah, ternyata tidak sedikit juga ya, orang yang tidak terlalu bahagia dengan keadaan mereka sekarang)

Selamat datang di blog saya.