Selasa, 02 Desember 2008

James Bourne?



Yeah, tentu saja semua penggemar Bond merindukan Sean Connery. Tapi usaha Paul Haggis sang penulis naskah yang mengumbar dialog one-liner (dan jangan lupakan pula adegan padang pasir) untuk menghidupkan kembali nuansa klasik itu dalam Quantum of Solace sungguh susah untuk dihargai.

Pertama, karena sekarang bukan tahun 1960-an, Bung! Banyak hal telah berubah, dan selera penikmat film hanya salah satu di antaranya. Kedua, Haggis seolah tidak mengerti bagaimana cara meracik chemistry hebat yang membuat dialog-dialog one-liner di era Dr. No sungguh terdengar berwibawa. Dalam Quantum, sosok Bond yang sukses mengalami rekonstruksi dalam Casino Royale seolah kembali terdegradasi menjadi mesin pembunuh dengan pengenalan kosa kata terbatas. Daniel Craig bahkan tidak seperti orang yang sama dengan pemeran Bond dalam Royale.

Bagian terbaiknya (atau justru terburuknya), adegan aksi di film terbaru Bond ini terasa sangat intens dengan dominasi kamera jarak dekat. Sayang, hal ini telanjur sangat familiar diasosiasikan dengan film The Dark Knight baru-baru ini, atau kalau mau menengok lebih jauh ke belakang, sesama film spy berjudul Bourne Ultimatum. Tentu saja, tidak ada penggemar yang sudi melihat Bond mengekor (dan bahkan tidak sebaik) juniornya itu.

Tapi di atas semua, yang paling menyesakkan dari film Bond termutakhir ini adalah penurunan kualitas gadis Bond yang begitu ketara dari seorang bidadari jenius sekelas Eva Green, menjadi seorang wannabe seperti Olga Kurylenko.

Cukuplah, dua bintang dari lima…

Minggu, 14 September 2008

Hell... No!



Hellboy II adalah apa yang terjadi jika seorang visioner Eropa memaksakan diri untuk mengikuti gaya Hollywood. Sebagai seorang sutradara, Guillermo Del Toro memang masih bisa mempertahankan kharisma dan ciri khasnya dalam magnum opus Pan's Labyrinth melalui kreasi makhluk-makhluk imajiner yang mungkin hanya bisa ditandingi oleh saga Star Wars. Namun saya berusaha mengambil jarak dan melihat apa yang benar-benar membuat sebuah film patut dihargai: kekuatan naskah. Dan Del Toro - yang juga berperan sebagai penulis naskah - gagal total untuk masalah ini.

Okelah, rentetan humor garing yang berserakan di film ini mungkin masih bisa dimaafkan karena Del Toro terlihat masih beradapatasi dalam menjiplak formula humor-humor ala superhero Amerika. Tapi jalan ceritanya sungguh tidak termaafkan. Terutama proses editing-nya yang nyata-nyata menunjukkan ego Del Toro yang enggan memotong naskahnya sendiri. Akibatnya film ini terasa sangat panjang dan melelahkan. Petualangan si bocah neraka yang seharusnya bisa diselesaikan kurang dari satu setengah jam ini akhirnya molor tidak karuan hingga mencapai 110 menit!

Dengan durasi sepanjang itu, adegan action yang memang banyak diumbar oleh Del Toro seharusnya bisa menjadi kompensasi bagi penonton yang harus menahan kantuk akibat melimpahnya adegan tidak penting. Sayang, untuk masalah ini Del Toro juga tidak efektif. Banyak adegan action, namun hampir semuanya hambar dan gagal membawa penonton ke level kesenangan tertinggi. Jika adegan Bat-pod dalam The Dark Knight mampu membuat penonton di bioskop tidak dapat menahan diri untuk bertepuk tangan, maka adegan action dalam Hellboy II bahkan tidak mampu membuat mata saya lebih melek dari sebelumnya.

Yah, bagaimanapun saya masih bisa menghargai Del Toro yang bisa mempertahankan ciri khasnya yang mengagumkan dalam film ini - kendati itupun hanya satu-satunya nilai lebih. Dua setengah bintang dari lima sudah penilaian maksimal dari saya.

Senin, 25 Agustus 2008

Help! We're Drowning...

Sebenarnya ide ini tidak baru sama sekali. Dunia tenggelam. Yeah, tentu saja sudah ada puluhan (atau bahkan ratusan?) ide serupa yang bertebaran di luar sana. Sekali ini, saya hanya ingin melakukan reproduksi ide dengan interprestasi versi saya sendiri.

Ketiga iklan bersambung ini masing-masing diberi judul sesuai dengan landmark yang mendominasi tampilan visualnya: “Monas”, “Patung Selamat Datang”, dan “Patung Pancoran”. Ide besarnya adalah membawa isu global warming pada lingkup lokal, yakni Jakarta. Ide tambahan adalah dengan membuat level air yang terus meninggi dari iklan pertama hingga ketiga.

Ilustrasi kembali dikerjakan oleh Gege, dan saya dapat mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan karyanya kali ini, sama seperti penggunaan konsep dan pendekatan humor yang menurut saya cukup segar. Hanya saja seri ini memperlihatkan dengan telak kegagapan saya untuk masalah art directing.

Saya akan berusaha untuk memperbaikinya di masa mendatang…






Minggu, 24 Agustus 2008

Robots Are The New Human!



Musim panas tahun ini saya dua kali berturut-turut keluar dari gedung bioskop dengan perasaan senang. Saya pasti sedang beruntung.


Bagi orang-orang yang mulai cemas dengan pendekatan Hollywood terhadap film-film komersil mereka, Pixar adalah jaminan mutu yang hampir tidak pernah mengecewakan. Karena itu cukup beralasan rasanya jika saya berharap banyak pada Wall-E, dan Pixar sekali lagi berhasil membuktikan bahwa saya tidak salah – walaupun bukan tanpa catatan.


Film ini diawali dengan sangat baik, kalau tidak bisa dibilang sempurna. Setting bumi yang telah ditinggalkan maupun karakter dua robot, Wall-E dan EVE, serta tambahan seekor lipas yang semuanya sangat manusiawi digambarkan dengan sukses oleh simplifikasi ala Pixar. Cerita lama: ketika Dreamworks berharap bisa mendekat melalui cara mereka yang bombastis, Pixar sekali lagi menunjukkan mengapa orang-orang dapat berharap lebih banyak kepada mereka. Jika Kungfu Panda memperlihatkan bagaimana sebuah produk dikemas dengan baik, maka Wall-E adalah karya seni yang sebenarnya.


Sayang, beban pesan moral yang begitu berat membuat paruh kedua film ini terasa agak kedodoran. Untuk memprotes cacat cela umat manusia dalam memperlakukan alam, menurut saya Pixar melakukan terlalu jauh dan sederhana dengan menggambarkan orang-orang yang sangat obese serta sudah sedemikian asing dengan benda bulat bernama bumi dan kebudayaan di dalamnya. Ayolah, orang-orang tidak akan sebodoh itu! Paling tidak bukan orang-orang yang hidup di lapisan terluar galaksi serta mampu mengendalikan pesawat luar angkasa super modern dan robot-robot cerdas. Sekali ini, simplifikasi ala Pixar tidak berhasil untuk saya. Ini tidak seperti gaya mereka yang biasa memendam pesan moral dalam-dalam agar tidak terkesan terlalu menggurui.


Bagaimanapun, pesan moral juga adalah pembelaan terbaik yang bisa diberikan oleh film ini. Harus diakui ketimbang film-film Pixar lainnya, Wall-E memiliki pesan moral yang jauh lebih dalam dan relevan dengan keadaan sekarang. Dan berbicara tentang film yang memiliki pesan moral, maka Pixar adalah studio yang paling bertanggungjawab terhadap karya-karya yang mereka hasilkan.


Wall-E adalah favorit saya untuk Oscar kategori film animasi terbaik tahun ini. Namun Pixar harus berhati-hati, karena dari belahan dunia yang lain seseorang bernama Hayao Miyazaki juga mengeluarkan film animasi dengan kualitas yang – saya yakin – tidak kalah bagus.


Untuk si robot kesepian yang akhirnya menemukan (banyak) teman hidup, saya memberikan empat setengah bintang dari lima.

Up, Up, and Glory!

Untuk pencapaian ini, saya harus banyak berterimakasih pada Edsa, ilustrator saya.


Pertengahan bulan Juli lalu, saya cukup beruntung memenangkan kompetisi desain poster olimpiade yang diselenggarakan oleh CJ Fancy Paper dan Kedutaan Besar Cina. Walaupun saya menghabiskan waktu berhari-hari untuk memikirkan konsep yang akan dituangkan, dan bekerja keras untuk menanamkan pesan-pesan terselubung dalam poster yang berjudul “Get Into The Spirit” ini, namun pada akhirnya kemenangan poster ini banyak ditentukan oleh tampilan visualnya yang menyenangkan mata. It’s that plain simple.


Konsep poster ini adalah menggabungkan dua budaya, Indonesia dan Cina, ke dalam satu semangat penyelenggaraan olimpiade. Gatot Kaca adalah pilihan pertama saya untuk menggambarkan ikon Indonesia, sementara lukisan bergaya Cina adalah pilihan yang saya ambil untuk mewakili negara tuan rumah olimpiade 2008 itu. Merasa kurang pede hanya dengan pencomotan ikon-ikon, saya menyertakan pula beberapa pesan terselubung untuk menambah daya tarik. Yang pertama adalah copy yang sekilas terlihat layaknya aksara Cina, namun jika diamati lebih teliti akan terbaca tulisan “Get Into The Spirit” dalam aksara latin. Adapun logo olimpiade yang berbentuk stempel Cina ditempatkan pada tempatnya di bagian bawah tulisan.


Pesan yang paling terlihat mungkin adalah pose Gatot yang dibuat sama dengan pose pada logo olimpiade. Bonus ditambahkan pada menit-menit terakhir oleh Edsa, yang membuat tampilan selendang melayang di pinggang Gatot seolah-olah menjadi garis finish yang diputuskan oleh si karakter. Very well done!



Ini Bukan (Sekedar) Film Superhero!



Kalau ada yang mengatakan bahwa The Dark Knight hebat karena penampilan mendiang Heath Ledger sebagai The Joker yang memang luar biasa, bisa dibilang bahwa ia sebenarnya malah merendahkan film ini. The Dark Knight adalah film yang hebat, titik.


Mari kita mulai dengan editing dan tata suaranya yang gagah. Dengan durasi lebih dari dua setengah jam, film ini tidak pernah gagal membuat saya terpaku di kursi dan menikmati setiap menitnya. Naskah adalah hal lain yang patut diberi kredit tersendiri. Seolah belum cukup memukau kita dengan proses memanusiakan costumed superhero yang lumayan sukses dalam Batman Begins, di The Dark Knight Nolan bersaudara kembali menghentak dengan menambahkan substansi yang dalam, berat, penuh kejutan, dan jauh lebih kelam. The Dark Knight bukan hanya sekedar film superhero, namun juga film drama, action, serta gangster yang sama kuatnya. Film ini mungkin adalah film gangster terbaik yang pernah saya tonton sejak The Departed dua tahun lalu.


Apa lagi? Yah, tentu saja ada Ledger yang selalu memberikan penampilan maksimal dalam beberapa film terakhirnya. Walaupun Nolan mengakui bahwa ia menunjuk komik The Killing Joke sebagai referensi terbesar The Joker dalam film ini, namun Ledger dengan sukses menciptakan The Joker-nya sendiri. Penampilan paling berkesan yang dipersembahkan mendiang dalam film pamungkasnya ini adalah cara terbaik untuk mengucapkan selamat tinggal pada dunia.


Tapi sekali lagi, The Dark Knight bukan hanya Ledger seorang. Secara keseluruhan film ini memiliki barisan cast yang sangat kuat. Christian Bale, Michael Caine, dan Morgan Freeman memberikan penampilan yang memenuhi ekspektasi, sementara Maggie Gylenhaal dan Aaron Eckhart memberi tambahan kejutan yang menyenangkan. Khususnya untuk Gylenhaal yang memberi nyawa lebih pada satu-satunya karakter dalam serial Batman yang hanya muncul dalam film, Rachel Dawes, ketimbang yang dilakukan oleh Katie Holmes pada film pertama.


Kalaupun ada kekurangan dari The Dark Knight, maka mungkin itu adalah sekaligus kekuatannya, yakni usaha untuk menggambarkan dunia komik secara lebih manusiawi. Bagi banyak penonton yang datang ke bioskop dengan mengharapkan kesenangan yang sama dengan film Spider - Man 2 atau Iron Man baru-baru ini, maka saya yakin bahkan kehadiran Bat-Pod yang super keren itu sekalipun tidak akan mampu memenuhi ekspektasi mereka. Namun performa The Dark Knight yang sungguh merajalela di tangga box office – setidaknya di daerah Amerika Utara – menghadirkan optimisme tersendiri bahwa penonton kita semakin siap untuk menerima film-film semacam ini di masa depan.


Untuk dampak yang diberikannya terhadap film-film adaptasi buku komik, penampilan terakhir dari seorang aktor jenius, serta sekedar untuk kualitasnya yang sungguh sangat di atas rata-rata; saya berani mengatakan bahwa The Dark Knight adalah film yang paling penting di tahun ini. Sayang, saya hanya sempat menontonnya dua kali di bioskop.


Lima bintang dari lima!

Halo, Ada Apa di Sana?

Sebelum terlalu basi, berikut ini saya lampirkan karya yang cukup bagus untuk menjadi pemenang kedua di lomba iklan Indonesia Bertindak yang diselenggarakan di milis CCI pada pertengahan Juni yang lalu – walaupun sayangnya belum cukup bagus untuk menjadi yang nomor satu. Sekedar informasi tambahan, sebenarnya saya mengirimkan satu seri yang terdiri dari tiga iklan, namun yang beruntung didapuk menjadi pemenang kedua hanya seri pertama yang berjudul “Bunaken”.


Walaupun sekilas terlihat kuat secara visual, ketiganya adalah iklan yang lebih bergaya copy-based ketimbang art-based. Konsepnya adalah mengangkat ketakutan berlebih wisatawan-wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia (diwakili oleh copy pada headline), yang dijawab dengan alasan bahwa sebenarnya tidak ada yang perlu ditakutkan di negara indah nan rupawan ini (diwakili oleh copy pada body copy). Adapun departemen ilustrasi untuk ketiga iklan ini dikerjakan oleh sobat saya, Gege.


Btw, pemenang pertama untuk lomba ini adalah sembilan seri iklan yang sangat copy-based, dan harus diakui memang lebih tajam ketimbang milik saya.